Indeks
News  

Narasi Di Balik Penolakan Tol: Sebuah Daerah yang Memilih untuk Tetap Jauh

Tanah Datar — Penolakan pembangunan jalan tol di sebuah daerah sering kali dianggap sebagai bentuk kemenangan warga dalam mempertahankan tanah adat maupun usaha lokal. Namun, pengamat dan pemerhati kondisi sosial-ekonomi daerah, Riadi Sutan Polawan, menilai penolakan tersebut bukanlah sekadar dinamika pembangunan aspal, melainkan pilihan sebuah daerah untuk tetap membiarkan wilayahnya terisolasi dari percepatan ekonomi.

Riadi Sutan Polawan menuturkan bahwa kekhawatiran warga terhadap penggusuran murah, sawah hilang, serta penurunan daya beli warung lokal memang wajar. Kendati demikian, sorak-sorai kemenangan warga saat alat berat pergi justru menjadi titik awal kerugian ekonomi jangka panjang yang tidak disadari.

“Ini bukan cerita tentang aspal. Ini cerita tentang sebuah daerah yang memilih untuk tetap jauh,” ujar Riadi Sutan Polawan saat membeberkan dampaknya.

Tiga Dampak Utama Penolakan Tol menurut Riadi Sutan Polawan:

  • Kekalahan Ekonomi 20 Tahun ke Depan Tujuan utama infrastruktur jalan tol adalah memangkas biaya logistik. Tanpa akses tol, distribusi komoditas seperti cabai, ikan, dan semen harus merayap 4 hingga 5 jam di jalan nasional yang sempit dan rusak. Konsumsi BBM dan risiko kerusakan barang melonjak, sehingga harga sembako di pasar lokal berpotensi 30% lebih mahal dibandingkan daerah tetangga. Petani dan konsumen lokal menjadi pihak yang paling dirugikan.
  • Pengalihan Arus Investasi Investor cenderung memilih wilayah dengan konektivitas tinggi. Ketika suatu daerah menolak pembangunan jalan tol, para pelaku usaha akan mengalihkan modalnya ke wilayah lain yang memiliki akses transportasi memadai. Dampak jangka panjangnya, angkatan kerja muda dari daerah yang menolak tol terpaksa merantau ke daerah tetangga untuk mencari lapangan pekerjaan di pabrik yang seharusnya dapat dibangun di daerah asal mereka.
  • Penyusutan Potensi Usaha Lokal Anggapan bahwa jalan tol membuat usaha lokal sepi dinilai tidak sepenuhnya tepat. Jalur nasional yang macet dan rusak justru enggan dilalui oleh wisatawan maupun pelaku bisnis. Daerah yang terhubung dengan akses tol umumnya melahirkan pusat pertumbuhan ekonomi baru di sekitar gerbang tol, melipatgandakan peluang usaha dari sekadar warung perlintasan menjadi destinasi utama.

Riadi Sutan Polawan menegaskan bahwa ketika proyek jalan tol dibatalkan, kerugian riil bukan menimpa pengembang atau pemilik proyek, melainkan ruko-ruko warga, destinasi wisata lokal, dan peluang kemajuan ekonomi daerah setempat yang kian tertinggal.

Exit mobile version